“Mesin Apheresis” Butuh Waktu 40-45 Menit Untuk Memproses Plasma Konvalesen Pendonor

DENPASAR,SERBIBALI.COM-Kepala Bidang Litbang dan Mutu UTD. PMI Provinsi Bali, dr. Ni Putu Chandra Indriasari menjelaskan, alat yang digunakan dalam pengambilan donor “Terapi Plasma Konvalesen”, menggunakan satu mesin yang diberi nama “Mesin Apheresis”.

“Hari ini, pada Jumat (23/7/2021), “Mesin Apheresis”, digunakan untuk mengambil “Plasma Konvalesen” dari pendonor”, kata Chandra Indriasari, pada saat acara “Donor Terapi Plasma Konvalesen”, bersinergi dengan PDDI Bali bersama FK Unud, PMI Bali, RSUP Sanglah Denpasar dan Satgas Covid-19 Provinsi Bali yang bertempat di gedung Cakra Vindhya Usadha, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Denpasar, pada Jumat (23/7/2021).

Lebih lanjut, Chandra Indriasari memaparkan, “Plasma Konvalesen” adalah “Plasma” yang diambil dari “Penyintas Covid-19” yang telah dinyatakan sembuh, untuk bisa diberikan pada pasien yang masih berjuang untuk sembuh. Kemudian ia menuturkan alat ini membutuhkan waktu sekitar 40-45 menit dalam memproses “Terapi Plasma Konvalesen”, serta diperlukan sekitar 400-600 CC “Plasma Konvalesen” sesuai standarnya.

“Untuk CC darah, bisa diambil 400-600 CC tergantung berat badan pendonornya”, tuturnya. Sementara disebutkan standar “Terapi”, itu biasanya perlu “400 CC” yang dibagi dalam dua dosis. Jadi dosis pertama diberikan 200 CC, kemudian di hari berikutnya atau tergantung kebijakan dokternya diberikan 200 CC yang berikutnya. Namun sekarang penelitian berkembang ada yang memang menyesuaikan dengan berat badan dan berat ringan gejalanya. Ada yang menggunakan lebih dengan posisi 3 atau 4 atau lebih,” paparnya.

Lebih lanjut, Chandra Indriasari mengungkapkan “Mesin Apheresis” bisa memiliki dua fungsi, yaitu untuk terapi dan untuk donor darah.

“Di PMI Bali lebih banyak digunakan untuk donor. Akan tetapi di rumah sakit lebih condong berfungsi untuk “Terapi” berbagai macam penyakit,” kata Chandra Indriasari.

Kalau untuk alat ini lanjut Chandra Indriasari, “Mesin Apheresis” berfungsi memisahkan darah. “Jadi dia mengambil komponen darah yang dibutuhkan saja. Nanti komponen darah yang tidak dibutuhkan, akan dikembalikan lagi ke tubuh pasien,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan secara kemurnian sel-selnya dan kualitasnya, diharapkan lebih baik daripada pengambilan darah dengan metode biasa. Kemudian Ia menuturkan untuk proses pengambilan darah, sedikit lebih lama daripada donor biasa, akan tetapi sel yang didapatkan itu merupakan “Produk Jadi”.

“Tidak perlu lagi diolah di laboratorium prosesing darah, tetapi Kita telah bisa mendapatkan langsung “Produk Jadi”. Seperti contohnya mesin ini bisa digunakan untuk mengambil “Trombosit” dan juga “Plasma Konvalesen”, untuk sekarang di Bali. Penggunaannya untuk dua macam komponen darah itu,” ungkapnya.

Sementara untuk keperluan di rumah sakit khusus “Terapi”, imbuh Chandra Indriasari, sering dikerjakan pada pasien saraf atau neurologi. Sementara beberapa kasus Lupus yang memang merupakan indikasinya dikerjakan terapi ini, bisa juga dikerjakan,” tandasnya.

Berikutnya, Chandra Indriasari mengingatkan agar saat masa pandemi Covid-19, diharapkan semua “Saudara” yang berkenan, “Mari Kita bersama-sama dan bersatu menghadapi Covid-19. “Kita tahu susah, mendapat darah pun, juga susah. Sementara pasien banyak sekali yang membutuhkan darah,” tegasnya.

Sementara bagi Penyintas Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh diharapkan kesediaannya untuk mendonorkan darah serta “Plasma Konvalesen”. Untuk “Saudara” yang tidak terkena Covid-19, kami harapkan untuk bisa mendonorkan darah biasa karena masih banyak sekali darah dari pihak pasien yang harus terpenuhi dan banyak membutuhkan darah. “Mari Kita berbagi. Ayo Kita bersatu melawan Covid-19,” tutupnya. acesb

Leave a Reply

Your email address will not be published.