Tari Legong Tombol Hidup Pasca Direkonstruksi Ulang

DENPASAR, SERBIBALI.COM – Pasca direkontruksi, keberadaan Tari Legong Tombol memiliki daya tarik tersendiri sebagai wujud pengembangan atas seni budaya khas Kabupaten Buleleng.Tari Legong Tombol yang berasal dari Banyuatis dan diciptakan maestro Legong Wayan Rindi (1917-1976) ini merupakan kesenian rekontruksi tarian profan, yang perlahan-lahan mulai populer diketahui masyarakat luas.  

Tahun 1950-an, tari ini sempat mengalami kemandekan regenerasi, lalu dilakukan rekonstruksi ulang tahun 2013-2015 sehingga tari yang merupakan symbol keagungan ini bisa terhindar dari kepunahan.

“Tari Legong Tombol pernah hampir saja punah di Buleleng, kala itu penarinya tinggal satu orang nenek berumur 80 tahun yang bertempat tinggal di Desa Banyuatis Kecamatan Banjar, Buleleng. Syukurnya beberapa gerak tari masih diingat saat itu,” ujar tokoh masyarakat Buleleng Ir. I Nyoman Sutrisna, MM., Minggu (4/4) kemarin.

Tarian ini  sebelumnya pernah dipentaskan 50 penari anak-anak Sanggar Seni Santhi Budaya pada pembukaan panggung utama depan Tugu Singa Ambara Raja dalam acara Bulfest ke-4 di Tahun 2016 yang bertema Masterpiece of Buleleng.

Sebelum pentas Tari Legong Tombol, turut dibantu gagasan saat itu oleh seniman sekaligus Seksi Kesenian Disbudpar Buleleng Drs. Wayan Sujana. Saat itu pula, ada kesenian rekontruksi tarian profan Tari Legong Tombol, Tari Legong Pengelep, dan Tabuh Singa Ambara Raja, yang ditampilkan sewaktu pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXVIII Kabupaten Buleleng di panggung terbuka Eks Pelabuhan Buleleng 27-30 Mei 2016. Jajaran Disbudpar Buleleng mengetahui Tari Legong Tombol hampir saja punah, sebab penarinya tersisa hanya seorang nenek berumur 80 tahun di wilayah Desa Banyuatis.

Sementara itu Tari Legong Pangelep (penari menari di atas kursi) pernah ditampilkan maestro seni Made Keranca asal Desa Jagaraga Kecamatan Sawan. Ia  turut merekontruksi Legong Pangeleb pada tahun 2010. Untuk Tari Pengeleb yang dipadu Gong Kebyar Dangin Enjung (Buleleng Timur) diciptakan oleh Cening Winten seniman berasal dari Desa Menyali Kecamatan Sawan. Keranca bergabung dengan Sanggar Cudamani di Ubud, Gianyar dan melakukan garapan rekontruksi atas Tari Legong Pengeleb yang menggambarkan kebebasan terhadap perempuan, di mana sosok perempuan dahulu terkungkung dan terbelenggu alias tidak memiliki ruang berkreasi. Tarian di atas kursi lalu diolah lewat beberapa variasi berdiri, melompat, dan perpaduan seni gerakan lain tanpa mengurangi versi tari aslinya.

Tarian Legong Tombol berkembang seiring waktu dan dikenalkan ke wilayah Desa Banyuatis dengan diiringi Gong Kebyar Dauh Enjung (Buleleng Barat). Selama perkembangannya Tari Legong Tombol pernah tidak dipentaskan di zaman kolonial Belanda.

“Jadi pernah direkontruksi kembali bersama pelaku seni bernama Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati (dosen ISI Denpasar). Maka dalam proses rekontruksinya banyak pengalaman bersama penari aslinya, sampai beberapa gerakan tidak diingat dan kami berusaha membantu mengingatkan gerakan tarinya,” katanya.

Ada sekitar empat hingga enam penari memakai kostum menyerupai Tari Legong umumnya, pementasan Tari Legong Tombol dipadu gerakan palegongan dan diringi samara pegulingan sebagai pengiring musik gamelan. Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan Buleleng dahulu mengetahui Tari Legong Tombol dari informasi akademisi di ISI Denpasar.

Keberadaan Tarian Legong Tombol, Tari Legong Pengelep, dan Tabuh Singa Ambara Raja terus dilatih untuk dilestarikan ke depannya. (mb/sb)

Leave a Reply

Your email address will not be published.