Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati Gelar Matatah/Mapandes Massal

Denpasar, SERBI BALI-Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati Denpasar kembali menggelar upacara matatah/mapandes massal, bertempat di Banjar Jabajati, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, pada Minggu (22/5/2022).

Kali ini upacara manusa yadnya diikuti oleh 32 peserta dan dipuput oleh Ida Pandita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati, Banjar Jabajati, Desa Pemogan Denpasar Selatan.

Ida Pandita Mpu Yogiswara memaparkan, bahwa upacara mapandes atau matatah massal dilakukan guna meringankan beban umat Hindu dalam berupacara yadnya.

Disebutkan, karya mepandes ini, bertujuan membantu umat untuk melaksanakan upacara yadnya yang efisien tanpa mengurangi makna upacara dengan diadakan secara massal.

Menurut Ida Pandita Mpu Yogiswara, upacara manusa yadnya Matatah yang juga disebut Potong Gigi atau Masangih ini diperuntukkan bagi anak yang sudah beranjak dewasa.

Dijelaskan, ritual mapandes atau matatah ini, juga sebagai wujud pembayaran utang oleh orang tua kepada anaknya, karena dinilai sudah bisa menghilangkan keenam sifat buruk dari diri manusia yang disebut Sad Ripu.

“Adapun Sad Ripu itu meliputi Kama (sifat penuh nafsu indriya), Lobha (sifat loba dan serakah), Krodha (sifat kejam dan pemarah), Mada (sifat mabuk atau kemabukan), Matsarya (sifat dengki dan iri hati) dan Moha (sifat kebingungan),” rincinya.

“Sesuai dengan tujuannya, upacara matatah ini, untuk mengurangi sifat buruk, yang ada didalam diri manusia,” terang Ida Pandita Mpu Yogiswara, dalam darma wacananya.

Lanjutnya, rangkaian matatah/mapandes massal ini dilaksanakan selama 2 (dua) hari, dimulai pada Sabtu, 21 Mei dan berakhir pada Minggu, 22 Mei 2022 di Griya Gede Manik Uma Jati, Pemogan, Denpasar Selatan

Kemudian, Ida Pandita Mpu Yogiswara menambahkan, pada Sabtu, 21 Mei 2022, rangkaian upacaranya dimulai dengan acara ngeraja swala, ngeraja singga, medengen-dengen lan ngekeb.

Sementara itu, kata Ida Pandita Mpu Yogiswara, pada Minggu, 22 Mei 2022 dilaksanakan upacara muka lawang, wasuh cokor bapak dan ibu lan sungkem, merajah, munggah matatah, majaya-jaya, mewinten, muspa, natab banten pregembal bebangkit.

Ida Pandita Mpu Yogiswara berharap, melalui pelaksanaan upacara ini, agar terwujud kehidupan yang harmonis, sesuai ajaran Tri Hita Karana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.